Berikut saya coba bagikan panduan cara mendownload data dari receiver gps menggunakan aplikasi dnrgps.
tempat berbagi
06 September 2014
4 dari 7 jenis penyu dunia ada di banyuwangi
BANYUWANGI, KOMPAS.com -- Wiyanto Haditanojo, pembina Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF), menjelaskan, empat dari tujuh jenis penyu di dunia terdapat di Banyuwangi. Keempat penyu tersebut yaitu penyu hijau (Chelonia mydas), penyu belimbing (Dermochelys coriacea), penyu sisik (Eretmochelys imbricate), dan penyu lekang (Lepidochelys olivace). Keempat jenis penyu itu hidup di pantai yang ada di Taman Nasional Alas Purwo (TNAP) dan Taman Nasional Meru Betiri (TNMB).
"Konservasi dengan melibatkan masyarakat sekitar pantai perlu dilakukan karena 10 tahun terakhir terjadi penurunan drastis penyu yang bertelur di pantai Banyuwangi. Selain itu, juga ada penyusutan jumlah penyu yang disebabkan oleh predator, salah satunya disebabkan oleh manusia, termasuk perburuan daging, telur, dan cangkang penyu," jelas Wiyanto kepada Kompas.com, Selasa (6/5/2014). Sayangnya, kata Wiyanto, intensitas predator tidak seimbang dengan reproduksi penyu yang tidak bertelur setiap tahun. Penyu baru bertelur dua sampai empat tahun, dan pada periode bertelur ini penyu bertelur beberapa kali.
"Diharapkan dengan memberikan penjelasan dan wawasan kepada masyarakat pesisir pantai, telur penyu bisa diselamatkan yang secara otomatis juga menambah jumlah penyu, khususnya yang berada di kawasan pantai Banyuwangi, karena penyu bisa menjadi indikasi pantai Banyuwangi masih bersih dan belum tercemar," jelasnya. Terkait naiknya penyu untuk bertelur di kawasan Pantai Boom Banyuwangi, ia mengaku merupakan kecenderungan yang unik. "Biasanya penyu bertelur di tempat yang sepi, sedangkan untuk kawasan Pantai Boom merupakan kawasan yang ramai dan sering didatangi oleh banyak orang," pungkasnya.
Penulis: Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati
Editor: Farid Assifa
Sumber : http://regional.kompas.com/read/2014/05/06/1821326/4.dari.7.Jenis.Penyu.Dunia.Ada.di.Banyuwangi
27 Mei 2012
MENGENAL KAWASAN KONSERVASI (TAMAN NASIONAL)
Taman Nasional merupakan salah satu kawasan konservasi yang saat ini dinilai banyak pihak sebagai kawasan yang mampu mengakomodasi antara kepentingan konservasi dengan kepentingan masyarakat sekitar kawasan. Berikut penjelasan dari Taman Nasional sebagai salah satu kawasan konservasi tersebut :
d. Kegiatan pokok
Sumber : Suparman Rais, dkk. 2006. Kawasan Konservasi Indonesia. DIRJEN PHKA. Jakarta
a.
Fungsi
-
Sebagai kawasan perlindungan sistem penyangga
kehidupan.
-
Sebagai kawasan pengawetan keragaman jenis
tumbuhan dan satwa.
-
Sebagai kawasan pemanfaatan secara lestari
potensi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya.
b.
Tujuan pengelolaan
-
Terjaminnya keutuhan kawasan taman nasional.
-
Terjaminnya potensi serta keragaman tumbuhan,
satwa, dan ekosistemnya.
-
Optimalnya manfaat taman nasional untuk
penelitian, pendidikan, ilmu pengetahuan, kegiatan yang enunjang budidaya,
budaya, dan wisata alam bagi kesejahteraan masyarakat.
c.
Prinsip dasar pengelolaan
-
Pendayagunaan potensi taman nasional untuk
kegiatan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, penyediaan plasma nutfah
untuk budidaya, dan kegiatan wisata alam diupayakan agar tidak mengurangi luas kawasan,
tidak menyebabkan berubahnya fungsi, serta tidak memasukkan jenis tumbuhan dan
satwa yang tidak asli (eksotik).
-
Dalam upaya pencapaian tujuan pengelolaan,
kawasan taman nasional ditata ke dalam zona inti, zona rimba/zona bahari, dan
zona pemanfaatan.
-
Zona inti:
·
Dalam zona inti hanya dapat dilakukan kegiatan
monitoring sumber daya alam hayati dan ekosistemnya;
·
Dalam zona inti dapat dibangun sarana dan
prasarana untuk kegiatan monitoring seperti tersebut pada point pertama diatas;
·
Dalam zona inti tidak dapat dilakukan kegiatan
yang merubah bentang alam.
-
Zona rimba/bahari:
·
Dalam zona rimba/bahari dapat dilakukan kegiatan
penelitian, pendidikan, wisata terbatas, dan kegiatan-kegiatan lain yang
menunjang budidaya;
·
Dalam zona rimba/bahari dapat dibangun sarana
dan prasarana sepanjang unruk kepentinga penelitian, pendidikan, dan wisata
terbatas;
·
Zona rimba/zona bahari tidak dapat digunakan
sebagai tempat berlangsungnya kegiatan yang bersifat merubah bentang alam;
·
Dalam zona ini diperkenankan adanya pemanfaatan
secara tradisional.
-
Zona pemanfaatan:
·
Dalam zona pemanfaatan dapat dilakukan kegiatan
pemanfaatan kawasan dan potensinya dalam bentuk penelitian, pendidikan, dan
wisata alam;
·
Kegiatan pengusahaan wisata alam dapat diberikan
kepada pihak ketiga, baik koperasi, BUMN, swasta, maupun perorangan;
·
Zona pemanfaatan dapat digunakan sebagai tempat
berlangsungnya kegiatan penangkaran jenis untuk menunjang kegiatan penelitian,
ilmu pengetahuan, pendidikan, dan restocking;
·
Dalam zona pemanfaatan dapat dibangun sarana dan
prasarana pengelolaan, penelitian, pendidikan, dan wisata alam yang dalam
pembangunannya harus memperhatikan gaya arsitektur daerah setempat (lokal);
·
Zona pemanfaatan tidak dapat digunakan sebagai
tempat berlangsungnya kegiatan yang bersifat merubah bentang alam;
·
Dalam zona pemanfaatan diperkenankan adanya
pemanfaatan tradisional.
-
Masyarakat sekitar secara aktif diikutsertakan
dalam pengelolaan kawasan taman nasional sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga
pemanfaatannya.
-
Dalam hal dijumpai adanya kerusakan habitat dan
atau penurunan populasi satwa yang dilindungi, maka setelah melalui pengkajian
yang seksama, dapat dilakukan kegiatan:
·
Pembinaan habitan dan pembinaan populasi;
·
Rehabilitasi dengan tumbuhan jenis asli;
·
Reintroduksi jenis satwa sejenis dan asli;
·
Pengendalian dan atau pemusnahan jenis tumbuhan
dan atau satwa yang tidak asli yang diidentifikasi telah dan akan mengganggu
ekosistem kawasan.
d. Kegiatan pokok
- Pemantapan kawasan
- Penyusunan rencana pengelolaan
- Pembangunan sarana dan prasarana
- Pengelolaan potensi kawasan
- Perlindungan dan pengamanan kawasan
- Pengelolaan penelitian dan pendidikan
- Pengelolaan wisata alam
- Pengembangan integrasi dan koordinasi
Sumber : Suparman Rais, dkk. 2006. Kawasan Konservasi Indonesia. DIRJEN PHKA. Jakarta
23 Mei 2012
Mutiara Terbang dari Timor
Kupang, Nusa Tenggara Timur, ketika terdengar pertama
pastinya kesan yang muncul untuk pertama kalinya adalah daerah yang kering,
gersang dan tidak ada air. Apalagi ditambah dengan munculnya sebuah iklan di tv
yang memunculkan objek dari iklan tersebut adalah sebuah daerah di NTT. Memang
tidak dipungkiri lagi bahwa seperti itulah keadaan yang ada di hampir seluruh
daerah di NTT, tetapi kata hampir bukan berarti semuanya seperti itu. Masih ada
juga daerah-daerah di NTT tidak seperti yang kita dengar ataupun saksikan baik
itu dari kerabat maupun dari iklan di tv.
Nusa Tenggara Timur yang banyak dikenal dengan daerahnya
yang kering tapi tidak dengan satwa liarnya. Daerah yang juga terkenal dengan
ciri kepulauannya dan termasuk dalam kawasan yang disebut wallacea ini ternyata
menyimpan banyak endemisitas dari fauna yang ada di dalamnya. Memang benar
bahwa Tuhan itu Maha Adil. Banyak keindahan yang bisa dilihat dari daerah yang
dikenal orang dengan daerah keringnya.
Beberapa waktu yang lalu saya hanya sedang iseng untuk
mengisi waktu luang dan berkeliling disekitar Kampus Balai Diklat Kehutanan
Kupang yang berada di SoE. Hanya melalakukan hunting foto pada daerah yang
menurut saya sangat kecil, tetapi sunggunh mengagumkan, saya bisa menangkap
beberapa gambar burung yang ternyata adalah burung endemik yang ada di pulau
Timor. Selain beberapa jenis burung endemik tersebut saya juga memperoleh
gambar dari beberapa jenis burung yang menurut saya itu masih terjaga
keberadaannya.
Semoga, masyarakat dengan semakin bertambahnya pengetahuan
mereka bisa menjaga kelestarian dari satwa-satwa yang ada disekitar mereka.
Langganan:
Postingan (Atom)


